Badminton Lovers

Badminton is My Life

Archive for the ‘Super Series’ Category

Back to back titles for Saina, Sari-Yao Lei

Posted by febrikusuma on June 21, 2010

India’s Saina Nehwal and Singapore’s women’s doubles pair of Shinta Mulia Sari and Yao Lei shared a common trait on Sunday at the Indoor Stadium in Singapore – both have won back to back titles.

After capturing the India Open women’s singles title and women’s doubles title last week, both Saina and Shinta-Yao Lei set the Indoor Stadium alight with another confident display to capture their second title in as many weeks.

While Saina showed no mercy against 16-year-old Tai Tzu Yin of Chinese Taipei, Shinta-Yao Lei gave the home crowd plenty to cheer when they beat South Korea’s Lee Hyo Jung-Kim Min Jung 21-17, 22-20 in the final of the US$200,000 Li Ning Singapore Open.

This was also Singapore’s first ever title in the Super Series event – comprising 12 tournaments with a minimum of USD200,000 total prize money for each tournament.

Saina, the women’s singles top seed, continued her impressive run in Singapore by outplaying Tzu Yin 21-18, 21-15. Tzu Yin, however, can be proud of her achievement as she showed great maturity for her age and showed great determination all the way.

In the men’s singles, Indonesia’s Sony Dwi Kuncoro, who scalped World No 1 Lee Chong Wei in the quarter-finals on Friday, beat Thailand’s Boonsak Ponsana to win his first ever Singapore Open title. Sony beat Ponsana 21-16, 21-16 in the final.

Another pair who continued their fine run in the tournament were Chinese Taipei’s Fang Chieh Min-Lee Sheng Mu.

Fang-Lee, who stunned Denmark’s No 3 seeds Mathias Boe-Carsten Mogensen and beat reigning Olympic champions Markis Kido-Hendra Setiawan in the semi-finals, served up another strong show to deny Howard Bach-Tony Gunawan the title. Fang-Lee won 21-14, 21-15.

Denmark’s Thomas Laybourn and Kamilla Rytter Juhl beat Indonesia’s Nova Widianto and Liliyana Natsir 21-12, 21-15 to clinch the mixed doubles title.

http://internationalbadminton.org

Advertisements

Posted in Super Series | 1 Comment »

Dionysius, Harapan Indonesia di DIOSS

Posted by febrikusuma on June 21, 2010

PENAMPILAN Dionysius Hayom Rumbaka  dalam debut pertamanya Piala Thomas di Kuala Lumpur, Malaysia, cukup menggembirakan. Dia mendapat kesempatan bermain meskipun hanya sekali. Kemenangan pun diraihnya atas pemain Australia Stuart Gomez.

Untung Hayom dapat kesempatan tampil meskipun hanya sekali, sehingga dia bisa merasakan bagaimana tampil di kejuaraan beregu itu. Penting bagi pemain muda seperti dia sehingga ke depan bila ditampilkan lagi sudah mempunyai modal bertanding.

Prestasinya cukup menggembirakan, dengan ditandai dengan beberapa gelar juara internasional tahun lalu. Umurnya belum genap 22 tahun, tetapi bila mendapatkan kesempatan banyak untuk bertanding, maka Hayom diprediksi akan menjadi salah satu bintang masa depan Indonesia.

Postur tubuhnya, yang mencapai tinggi badan 182 sentimeter, tentu menjadi salah satu modal untuk berprestasi. Pemain PB Djarum yang kini telah menghuni pelatnas ini dikenal sebagai salah satu pemain yang mempunyai smes keras dan sedikit ofensif. Pemain yang bercita-cita masuk Angkatan Udara jika tidak berkarier di bulutangkis ini juga mempunyai permainan net yang baik.

Memang, pemain berwajah ganteng ini baru membuktikan diri di turnamen menengah, seperti Banuinvest International Series, di Romania, Maret tahun lalu. Gelar juara lainnya, adalah Australia Open Grand Prix dan Indonesia Challenge. Tantangan Hayom ke depan tentu lebih berat, mengingat perjalanan kariernya masih panjang, dan persaingan sangat ketat.

Satu tantangan terdekat adalah Djarum Indonesia Open Super Series (DIOSS) yang digelar di Istora Gelora Bung Karno. Tahun lalu, pemain yang lahir 22 Oktober 1988 itu tidak mampu lolos kualifikasi. Kini, dengan bekal juara di beberapa turnamen internasional dan pengalamannya bertanding di turnamen besar lainnya, seperti All England dan Swiss Terbuka, dia berharap dapat mencapai berprestasi lebih baik lagi.

“Tentu keinginan saya juara. Tetapi itu tentu berat. Satu per satu dulu, dan lihat hasil undiannya juga. Kalau bertemu pemain unggulan tentu sulit. Namun, saat ini saya jauh lebih siap,” kata Hayom, yang mempunyai hobi sepakbola ini. Selain bermain bulutangkis, dia juga lihai bermain sepakbola dalam rilis yang diterima okezone, Jumat (18/6/2010).

Pemain yang mengidolakan Taufik Hidayat itu hanya mampu bertahan di babak pertama di All England dan babak kedua di Swiss Terbuka 2010. Saat itu, dia harus mengakui kehebatan dua pemain terbaik China Chen Jin dan Chen Long.

“Kalah dengan rubber game. Saya telah belajar banyak dari kekalahan itu,” ujar pemain yang menyukai pecel lele ini.

Jalan menjadi salah satu pemain terbaik di Indonesia cukup panjang. Dia mengenal bulutangkis saat kelas 3 SD Kanisius Wates, Kulon Progo, DI Yogyakarta. Melihat bakatnya, dia dimasukkan ke klub bulutangkis Pancing Sembada di GOR Pangukan, Sleman, DIY. Jarak sekitar 25 kilometer harus ditempuhnya dari rumahnya ke Sleman.

Namun, menginjak kelas 6 SD, dia pindah ke klub di Pikiran Rakyat di Tasikmalaya, Jawa Barat. Saat memasuki kelas 2 SMP, orang tuanya membawanya kembali ke Pancing hingga 2005. Setelah itu, dia kembali ke kampung halamannya hingga akhirnya pada 2005, dia pindah ke PB Djarum di Kudus. Di salah satu klub terbesar di Indonesia ini, pemain kelahiran 22 Oktober 1988 ini seperti menemukan apa yang dia harapkan. Pelatih hebat dan juga kesempatan bertanding di luar negeri sangat besar. Di bawah binaan mantan pemain asal China Fang Kai Xiang, dia digembleng dengan keras, sehingga lahirlah beberapa gelar juara.

Posted in Super Series | Leave a Comment »

Di Sini Kandang Kita!

Posted by febrikusuma on June 21, 2010

JAKARTA, KOMPAS.com — Tahun lalu, Indonesia sebagai tuan rumah hanya menjadi penonton turnamen bulu tangkis Djarum Indonesia Open Super Series karena cuma menyaksikan wakil dari negara lain naik podium untuk mengangkat trofi dan menyabet medali. Memiliki sejumlah pemain top yang diharapkan bisa naik podium juara, pasukan “Garuda” justru berguguran sebelum mencapai final. Hanya Taufik Hidayat yang bisa mencapai partai puncak, sebelum dikalahkan rival beratnya dari Malaysia, Lee Chong Wei.

Padahal, menjelang turnamen bergengsi berhadiah 250.000 dollar AS tersebut, hampir semua orang sudah punya ekspektasi yang cukup tinggi. Bahkan, Ketua Umum PB PBSI Djoko Santoso berani memasang target minimal merebut tiga gelar, yaitu tunggal putra, ganda putra, dan ganda campuran.

Keyakinan ini cukup beralasan karena di tiga sektor tersebut Indonesia memiliki pemain-pemain bermental juara dan sudah mengoleksi banyak gelar. Di tunggal putra ada Taufik Hidayat, yang sudah enam kali juara di rumah sendiri, begitu juga dengan Sony Dwi Kuncoro, yang menjadi juara Djarum Indonesia Open Super Series 2008. Di ganda putra ada Markis Kido/Hendra Setiawan, juara 2005, dan di ganda campuran terdapat pasangan Nova Widianto/Liliyana Natsir, juga juara 2005.

Namun, harapan itu tinggallah harapan karena semua gelar tersapu bersih oleh para “tamu”. Taufik, yang mengincar gelar ketujuh di negara sendiri, harus mengakui kehebatan Chong Wei, pemain nomor satu dunia. Di sektor tunggal putri muncul juara baru asal India, Saina Nehwal. Kemudian ganda putri dimenangi pasangan Malaysia, Eei Hui Chin/Pei Tty Wong; ganda putra menjadi milik pasangan Korea Selatan, Jung Jae-sung/Lee Yong-dae; dan ganda campuran direbut pemain China, Zheng Bo/Ma Jin.

Mendung pun menyelimuti langit Indonesia karena bulu tangkis yang menjadi olahraga kebanggaan di Tanah Air gagal mempersembahkan gelar. Hasil tahun 2009 itu menjadi ulangan mimpi buruk tahun 2007 ketika Indonesia harus malu di kandang sendiri lantaran gagal menyabet satu gelar pun. Tahun tersebut, Chong Wei juara tunggal putra, Wang Chen (Hongkong) di tunggal putri, Fu Haifeng/Cai Yun (China) juara ganda putra, Du Jing/Yu Yang (China) juara ganda putri, dan Zheng Bo/Gao Ling juara ganda campuran.

Padahal, dalam sejarah Indonesia Terbuka yang mulai bergulir pada tahun 1982 hingga berganti nama menjadi Indonesia Super Series, Indonesia selalu dominan. Bahkan, pernah terjadi sapu bersih gelar, seperti pada tahun 1983, 1993, 1996, 1997, dan 2001, ketika di sektor putri masih ada pemain-pemain top seperti Susi Susanti, Mia Audina, Lili Tampi, Finarsih, Rosiana Tendean, Ivana Lie, Deyana Lomban, dan Verawaty Fajrin.

Kini, kekuatan sektor putri Indonesia sudah hilang semenjak era Susi dan Mia berakhir. Tak heran jika dua nomor putri (tunggal dan ganda) nyaris tidak pernah masuk hitungan lagi di setiap turnamen, termasuk pada Djarum Indonesia Open Super Series 2010 ini.

“Saat ini kita memiliki mantan juara di sektor tunggal putra, serta masih ada yang diandalkan dari sektor ganda putra dan ganda campuran,” ungkap Djoko, yang juga Panglima TNI.

Benar sekali, tiga sektor ini tetap masih menjadi nomor andalan Indonesia. Akan tetapi, tidak tertutup kemungkinan terjadi kejutan di sektor tunggal dan ganda putri karena para pemain top dari China, Denmark, dan Korea Selatan tidak tampil dalam Djarum Indonesia Open Super Series kali ini. Bahkan, dari jauh-jauh hari China sudah memastikan tidak ambil bagian dalam turnamen yang akan berlangsung di Istora Senayan, Jakarta, 22-27 Juni, ini karena mereka juga sedang menggelar kompetisi internal.

Inilah yang membuat Ketua Subbidang Pelatnas PB PBSI Christian Hadinata cukup optimistis Indonesia bisa menyapu bersih lima gelar. Tentunya, perlu perjuangan yang keras dan menunjukkan semangat yang tak pernah padam. “Peluang meraih gelar di lima nomor tetap terbuka karena China tidak ambil bagian sehingga kekuatan menjadi rata,” ujar Christian saat jumpa pers Djarum Indonesia Open Super Series di Jakarta, 8 Juni lalu.

Ya, kans para pemain putri mengakhiri paceklik gelar sangat terbuka kali ini. Absennya semua pemain top China, plus juara All England, Tine Rasmussen (Denmark), sedikit menguak harapan bagi Maria Febe Kusumastuti, Adriyanti Firdasari, dan Maria Kristin Yulianti untuk menjadi juara. Di sektor ganda pun demikian, tanpa China, peta kekuatan menjadi sangat berimbang sehingga Meiliana Jauhari/Greysia Polii dan Shendy Puspa Irawati/Nitya Krishinda Maheswari bisa mengambil kesempatan ini.

Pelajaran dari Singapura

Jelang tampil di Djarum Indonesia Open Super Series, para pemain Indonesia lebih dulu ambil bagian di Singapura Terbuka Super Series. Hasilnya tidak terlalu mengecewakan karena Sony Dwi Kuncoro bisa membawa pulang gelar nomor tunggal putra. Dalam perjalanannya, dia lebih dulu menyingkirkan pemain nomor satu dunia, Chong Wei, dan di final mengalahkan unggulan keempat dari Thailand, Boondak Ponsana.

Nova/Liliyana juga berhasil menembus final. Sayang, ganda campuran nomor satu Indonesia ini tampil sangat buruk sehingga menyerah dua set langsung dari pasangan Denmark, Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl. Begitu juga dengan ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan, yang takluk di semifinal dari pasangan Taiwan, Fang Chieh Min/Lee Sheng Mu Lee, yang akhirnya menjadi juara.

Di ganda putri, Meiliana/Greysia sempat membuat kejutan karena melangkah ke semifinal seusai mengalahkan unggulan ketujuh dari Korsel, Ha Jung-eun/Jung Kyung-eun. Tetapi, perjalanan mereka harus terhenti karena dijegal pasangan Korsel yang merupakan unggulan kelima, Kim Min-jung/Lee Hyo-jung.

Namun, yang menarik dari hasil final di Singapura ini adalah munculnya ganda putri tuan rumah, Shinta Mulia Sari/Yao Lei, yang menjadi juara. Menghadapi Kim Min-jung/Lee Hyo-jung, semangat tinggi dan daya juang Shinta/Yao, yang tidak diunggulkan, membuat mereka mampu meraih kemenangan straight game, 21-17, 22-20. Ini merupakan sebuah hasil yang semestinya dan sepatutnya bisa menjadi inspirasi bagi pemain-pemain putri Indonesia untuk berprestasi di negara sendiri setelah Ellen Angelina terakhir kali menjadi juara tunggal putri tahun 2001 dan Vita Marissa/Liliyana Natsir juara ganda pada tahun 2008.

Jika di Singapura saja—yang juga tidak diikuti para pemain top China, Denmark, dan Korsel—kita bisa membawa pulang gelar, di Jakarta pun kita harus meraihnya. Karena, di sini kandang kita!

<!–/ halaman berikutnya–>

Posted in Super Series | Leave a Comment »

Akhirnya, Hanya Sony Yang Juara

Posted by febrikusuma on June 21, 2010

JAKARTA, Kompas.com – Ganda campuran Nova Widianto/Liliyana Natsir gagal menggandakan gelar juara Indonesia di turnamen Singapura Terbuka Super Series, Minggu (20/6/2010).

Nova/Butet yang diunggulkan di tempat pertama menyerah dua game dari unggulan kedua asal Denmark, Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl 12-21 15-21. Pasanhan Indonesia ini menyerah dalam 33 menit.

Nova/Butet maju ke final setelah di semifinal menyingkirkan pasangan Taiwan Chen Hung Ling/Cheng Wen Hsing dalam dua game 21-14 24-22. Sementara Laybourn/Juhl di semifinal menyingkirkan ganda Indonesia Hendra AG/Vita Marissa 21-15 21-13.

Dengan kegagalan Nova/Butet meraih gelar juara, berati Indonsia “hanya” meraih satu gelar juara di Singapura melalui tunggal putera Sony Dwi Kuncoro. Di final Sony mengalahkan pemian Thailand, Boonsak Ponsana 21-16 21-16.

Hasil lengkap Singapura Terbuka:
Saina Nehwal [1] [IND]-[TPE] Tai Tzu Ying 21-18 21-15
Fang Chieh Min/Lee Sheng Mu  [TPE]-Howard Bach [8]/[USA] Tony Gunawan 21-14 21-15
Sony Kuncoro [7] [INA]-[THA]  Boonsak Ponsana [4] 21-16 21-16
Shinta Mulia Sari/Yao Lei [SIN]-Min Jung KIM [5]/[KOR]Lee  Hyo Jung  21-17 22-20
Thomas Laybourn [2]/Kamilla Rytter Juhl [DEN]-Nova Widianto [1]/Liliyana Natsir 21-12 21-15

Posted in Super Series | Leave a Comment »

Nova/Liliyana Gagal Jadi Juara

Posted by febrikusuma on June 21, 2010

JAKARTA, Kompas.com – Ganda campuran terkuat Indonesia, Nova Widianto/Liliyana Natsir gagal meraih gelar di Singapura Terbuka Super Series. Di final, Minggu (20//6/10), mereka menyerah dua set langsung 12-21, 15-21 dari pasangan Denmark Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl.

Dengan demikian, Indonesia hanya bisa mendapatkan satu gelar di turnamen berhadiah 200.000 dollar AS. Sebelumnya, Sony Dwi Kuncoro (unggulan 7) yang naik podium juara setelah menang straight set 21-16, 21-16 atas unggulan keempat dari Thailand, Boonsak Ponsana.

Pada pertandingan yang digelar di Singapore Indoor Stadium, Singapura, Nova/Liliyana bermain sangat buruk. Malah pada set pertama, unggulan utama ini sempat tertinggal 5-20, sebelum mereka menambah tujuh poin dan lawan mengakhirinya dengan 21-12.

Di game kedua, Nova/Liliyana berusaha bermain lebih agresif. Tetapi pasangan Denmark, yang merupakan unggulan kedua, berhasil mempertahankan momentum, sehingga kembali meraih kemenangan dengan skor 21-15.

Hasil ini membuat Thomas/Kamilla terus menjaga rekor kemenangan dalam tiga pertemuan terakhir, di mana mereka selalu menang. Total, pasangan ini sudah bertemu 14 kali, dan kedudukan sekarang menjadi 9-5 untuk Nova/Liliyana.

Tuan rumah Singapura, mendapatkan satu gelar lewat ganda putri Shinta Mulia Sari/Yao Lei. Pasangan non-unggulan ini tampil luar biasa, sehingga bisa menang straight set 21-17, 22-20 atas unggulan lima dari Korea Selatan Kim Min Jung/Lee Hyo Jung.

Posted in Super Series | Leave a Comment »

Sony Juara di Singapura

Posted by febrikusuma on June 21, 2010

JAKARTA, KOMPAS.com — Tunggal putra Indonesia, Sony Dwi Kuncoro, menunjukkan bahwa ia masih eksis dengan menjuarai turnamen Singapura Terbuka Super Series, Minggu (20/6/2010).

Sony yang diunggulkan di tempat ketujuh tampil tanpa cela untuk mengalahkan unggulan ke-4 asal Thailand, Boonsak Ponsana, di Singapore Indoor Stadium.

Tampil dengan motivasi tinggi, Sony yang sempat cedera saat Piala Thomas pada bulan lalu menang dalam dua game saja, 21-16, 21-16. Pemain asal Surabaya ini menang dalam 45 menit.

Sony maju ke babak final setelah menang dua game, 21-19, 22-20, atas pemain India, Kashyap Parupalli, Sabtu (19/6/2010).

Dengan hasil ini, Indonesia sementara meraih satu gelar juara di Singapura Terbuka. Indonesia masih berpeluang menambah satu gelar setelah ganda campuran Nova Widianto/Liliyana Natsir juga maju ke final menghadapi unggulan ke-2 asal Denmark, Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl.

Pada nomor tunggal putri, pemain India, Saina Nehwal, merebut gelar juara dengan mengalahkan pemain Taiwan, Tai Tzu Ying, 21-18, 21-15. Sementara itu, ganda putra Taiwan, Lee Sheng Mu/Fang Chieh Min, menjadi juara dengan mengalahkan ganda AS, Tony Gunawan/Howard Bach, 21-14, 21-15.

Posted in Super Series | Leave a Comment »

Kesempatan Baik buat Sony

Posted by febrikusuma on June 21, 2010

JAKARTA, KOMPAS.com — Sony Dwi Kuncoro memiliki kesempatan untuk memulihkan kepercayaan terhadap dirinya di final Singapura Terbuka, Minggu (20/6/2010).

Sony yang diunggulkan di tempat ketujuh akan menghadapi unggulan ke-4 asal Thailand, Boonsak Ponsana.

Ini merupakan kesempatan Sony buat memulihkan lagi kepercayaan terhadap eksistensinya sebagai pemain papan atas. Berada di luar 10 besar peringkat dunia, Sony sempat tampil mengecewakan dalam ajang Piala Thomas lalu.

Sony yang diharap menyumbang satu poin dalam setiap partai Piala Thomas hanya tampil satu kali dan mundur karena mengalami cedera punggung saat menghadapi India.

Namun, pada turnamen Singapura Terbuka Super Series ini, ia tampil mengejutkan saat menyingkirkan unggulan pertama dari Malaysia, Lee Chong Wei, pada babak perempat final. Sony menang rubber game, 7-21, 21-19, 21-15.

Berikut jadwal final Singapura Terbuka:
Saina NEHWAL [1] [IND]-[TPE]  Tzu Ying TAI
Howard BACH [8]/Tony GUNAWAN [USA]-[TPE]  Chieh Min FANG/Sheng Mu LEE
Sony KUNCORO [7] [INA]-[THA]  Boonsak PONSANA [4]
Shinta Mulia SARI/Lei YAO [SIN]-[KOR]  Min Jung KIM [5]/Hyo Jung LEE
Nova WIDIANTO [1]/Liliyana NATSIR [INA]-[DEN] Thomas LAYBOURN [2]/Kamilla RYTTER JUHL

Posted in Super Series | Leave a Comment »

Sayang, Kido/Hendra Kalah Telak

Posted by febrikusuma on June 21, 2010

JAKARTA, Kompas.com — Markis Kido/Hendra Setiawan tampil buruk di semifinal Singapura Terbuka Super Series, Sabtu (19/6/2010). Di luar dugaan, ganda putra nomor satu Indonesia tersebut menyerah dua set langsung 19-21, 9-21 dari pemain non-unggulan Taiwan, Fang Chieh Min/Lee Sheng Mu, dalam duel berdurasi 26 menit di Singapore Indoor Stadium.

Hasil ini tentu sangat menyesakkan, jika menilik segudang prestasi Kido/Hendra dibandingkan dengan lawannya. Alih-alih menang sehingga Indonesia mempunyai tiga wakil di final turnamen berhadiah 200.000 dollar AS ini, juara Olimpiade Beijing 2008 tersebut menyerah dengan sangat mudah.

Dengan demikian, Indonesia hanya memiliki dua wakil yang akan tampil di final, Minggu (20/6/2010). Ganda campuran Nova Widianto/Liliyana Natsir lebih dulu mendapatkan tiket ke partai puncak, disusul tunggal putra Sony Dwi Kuncoro, yang membuat perjalanan fantastis ke final setelah lebih dulu mengalahkan pemain nomor satu dunia asal Malaysia, Lee Chong Wei, pada perempat final kemarin.

Kido/Hendra, unggulan kedua, hanya menyajikan permainan yang menarik di set pertama. Selepas skor 6-6, mantan pemain pelatnas Cipayung ini terus memimpin hingga 18-16. Sayang, untuk merebut tiga angka terakhir mereka sangat kesulitan sehingga lawan bisa mengejar dan membalikkan keadaan untuk menang 21-19.

Di set kedua, permainan Kido/Hendra menurun sangat drastis. Kondisi ini memudahkan pasangan Taiwan, yang melesat cepat sampai unggul 14-8. Di sini, Kido/Hendra hanya bisa menambah satu poin, sebelum lawan mengakhiri pertandingan dengan meraih tujuh poin secara beruntun untuk menang 21-9.

Di final, Fang/Lee akan bertemu dengan pemenang antara pasangan Korea Selatan Ko Sung Hyun/Yoo Yeon Seong versus unggulan delapan dari Amerika Serikat Howard Bach/Tony Gunawan. Partai ini akan berlangsung setelah pertarungan tunggal putra antara unggulan empat dari Thailand, Boonsak Ponsana, versus unggulan dua dari Denmark, Peter Hoeg Gade.

Singapura loloskan ganda putri

Tuan rumah Singapura memiliki harapan untuk mendapatkan satu gelar di kandangnya sendiri. Asa itu muncul ketika ganda putri Shinta Mulia Sari/Yao Lei berhasil memenangkan partai sengit melawan ganda Taiwan yang merupakan unggulan keempat, Cheng Wen Hsing/Chien Yu Chin, dengan rubber set 11-21, 21-18, 21-19.

Dalam pertarungan yang berdurasi 50 menit ini, Shinta/Yao sangat keteteran di set awal karena mereka langsung tertinggal 0-6. Meskipun berusaha bangkit, tetapi pasangan tuan rumah itu tak mampu mengejar lagi lawannya yang berhasil menutup set pembuka dengan 21-11.

Di game kedua, pertarungan berlangsung sangat ketat. Dukungan penonton yang memadati stadion membuat Shinta/Yao berhasil mengatasi tekanan lawan dan balik menyerang sehingga bisa memenangkan duel sengit itu dengan skor tipis 21-18, sekaligus memaksa rubber game.

Pada awal set penentuan, Shinta/Yao selalu tertinggal. Meskipun demikian, mereka terus menjaga jarak sehingga lawan tak terlalu jauh berada di depan. Selepas skor 14-12, Shinta/Yao mampu mengunci lawan berkat empat poin beruntun yang diraih sehingga mereka balik memimpin 16-14. Inilah titik balik bagi pasangan Singapura itu sampai akhirnya menang 21-19.

Di final, Shinta/Yao bakal menghadapi lawan yang berat lagi. Pasangan non-unggulan ini akan melawan unggulan kelima dari Korea Selatan, Kim Min Jung/Lee Hyo Jung, yang maju ke final setelah menang straight set 21-8, 21-15 atas pasangan Indonesia, Meiliana Jauhari/Greysia Polii.

Posted in Super Series | Leave a Comment »

Sony ke Final, Ikut Jejak Nova/Liliyana

Posted by febrikusuma on June 21, 2010

JAKARTA, Kompas.com — Sony Dwi Kuncoro melangkah ke final turnamen bulu tangkis Singapura Terbuka Super Series. Pemain pelatnas Cipayung ini meraih tiket menuju partai puncak setelah menang straight set 21-19, 22-20 atas pemain India, Kashyap Parupalli, Sabtu (19/6/2010).

Dengan demikian, Sony mengikuti jejak ganda campuran Nova Widianto/Liliyana Natsir, yang sudah lebih dulu menjejakkan kakinya di final turnamen berhadiah 200.000 dollar AS ini. Artinya, Indonesia sudah memiliki dua wakil, meskipun Hendra Aprida Gunawan/Vita Marissa serta Meiliana Jauhari/Greysia Polii terjegal di semifinal. Tim Merah Putih masih memiliki peluang menambah satu wakil lagi, jika ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan berhasil mengalahkan ganda Taiwan, Fang Chieh Min/Lee Sheng Mu.

Sony, unggulan ketujuh, tampil sangat mengesankan dalam duel berdurasi 48 menit di Singapore Indoor Stadium ini. Pada awal set pertama, Sony selalu tertinggal dalam pengumpulan angka. Namun, setelah mampu mengejar dan menyamakannya pada kedudukan 17-17 menyusul tiga poin beruntun yang diraih, maka Sony membalikkan situasi dengan meraih kemenangan 21-19.

Pada set kedua, pertarungan berlangsung sangat ketat dan menegangkan karena terjadi kejar-mengejar poin. Kashyap lebih dulu memimpin hingga kedudukan 6-4, kemudian Sony mengejar dan gantian memimpin hingga 14-11. Kemudian, Kashyap bisa menyusul dan sempat meraih set point dalam kedudukan 20-19, tetapi Sony kembali mengejar dan meraih kemenangan 22-20.

Hasil ini membuat Sony, yang di perempat final kemarin mengalahkan pemain nomor satu dunia asal Malaysia, Lee Chong Wei, menambah daftar kemenangannya terhadap Kashyap. Sebelumnya, mereka pernah bertemu pada turnamen Philipina Terbuka 2007, di mana Sony menang straight set 21-18, 21-12.

Di final, Minggu (20/6/2010), Sony akan bertemu dengan pemenang antara unggulan keempat dari Thailand, Boonsak Ponsana, versus unggulan dua dari Denmark, Peter Hoeg Gade. Peluang Sony menjadi juara di Singapura cukup terbuka lebar karena secara head to head, Sony unggul atas dua calon lawannya tersebut.

Dengan Boonsak, Sony pernah bertemu tiga kali dan unggul 2-1. Sony menang pada pertemuan di Hongkong Terbuka Super Series 2007 serta Olimpiade Beijing 2008, sedangkan Boonsak mengalahkan Sony pada penyisihan Grup D Piala Thomas 2008.

Sedangkan dengan Peter Gade, Sony juga pernah bertemu tiga kali dan unggul 2-1. Sony menang di Kejuaraan Dunia 2003 dan Kejuaraan Dunia 2007, sedangkan Peter menang di Kejuaraan Dunia 2005.

Posted in Super Series | Leave a Comment »

Meiliana/Greysia Tak Mengejutkan Lagi

Posted by febrikusuma on June 21, 2010

JAKARTA, Kompas.com — Indonesia tak punya wakil lagi di nomor ganda putri pada kejuaraan bulu tangkis Singapura Terbuka Super Series. Pasangan pelatnas Cipayung, Meiliana Jauhari/Greysia Polii, gagal melanjutkan kejutannya di semifinal karena kalah dua set langsung 8-21, 15-21 dari pasangan Korea Selatan, Kim Min Jung/Lee Hyo Jung, Sabtu (19/6/2010).

Dalam duel yang berlangsung di Singapore Indoor Stadium ini, Meiliana/Greysia nyaris tak berkutik. Tak heran jika mereka hanya mampu bertahan selama 31 menit melawan pasangan unggulan kelima tersebut.

Di set pertama, Kim/Lee sangat menikmati pertandingan karena mereka tidak mendapat tekanan berarti. Sejak kedudukan imbang 3-3, Kim/Lee terus melejit dan jauh meninggalkan pasangan Indonesia tersebut yang akhirnya menyerah 8-21.

Pada game kedua, Meiliana/Greysia mencoba untuk bangkit. Tekanan yang diberikan pada awal pertandingan membuat mereka sempat memimpin hingga kedudukan 5-3. Namun, setelah itu Kim/Lee mendulang lima poin secara beruntun sehingga mengambil alih kendali permainan berkat keunggulan 8-5. Selanjutnya, Kim/Lee tak terkejar lagi sampai menang 21-15 dan maju ke final turnamen berhadiah 200.000 dollar AS ini.

Saina ke final

Dari sektor tunggal putri, pemain nomor satu India, Saina Nehwal, berhasil bangkit dari keterpurukannya di set pertama ketika melawan pemain China, Lu Lan. Kalah 8-21 di set pertama, Nehwal, juara Indonesia Terbuka Super Series 2009, mampu membalikkan keadaan dengan menang 21-17 dan 21-8 di dua set selanjutnya.

Dengan demikian, Nehwal, yang pekan lalu juara di India Grand Prix Gold, menapaki final dan berpeluang meraih gelar kedua dalam rentang waktu dua minggu. Unggulan utama ini akan berhadapan dengan pemenang duel antara dua pemain non-unggulan, Bae Youn Joo (Korea Selatan) versus Tai Tzu Ying (Taiwan).

Sedangkan bagi Lu Lan, kekalahan ini membuat China tidak memiliki wakil di partai final. Padahal, unggulan keempat tersebut merupakan satu-satunya pemain dari “Negeri Tirai Bambu” yang mengambil bagian dalam turnamen ini.

Posted in Super Series | Leave a Comment »