Badminton Lovers

Badminton is My Life

Archive for June, 2010

Ana Rovita Cari Pengalaman ke Singapura

Posted by febrikusuma on June 30, 2010

SEAMRANG, Kompas.com – Pebulu tangkis tunggal putri Djarum Kudus, Ana Rovita, bakal diterjunkan pada turnamen bulu tangkis Singapura Internasional Series, 20-24 Juli 2010, setelah sukses masuk babak semifinal Djarum Indonesia Super Series beberapa waktu lalu.

Ketua PB Djarum Kudus, Yopi Rosimin, ketika dihubungi dari Semarang, Senin, mengatakan, untuk menambah pengalaman dan jam terbangnya, Rovita akan lebih banyak dimainkan pada turnamen bulu tangkis internasional.

Ia mengakui prestasi yang dicapai Ana Rovita pada Indonesia Open di Jakarta beberapa waktu lalu sangat memuaskan karena yang bersangkutan harus berjuang dari babak kualifikasi, kemudian di luar dugaan bisa melangka ke babak empat besar.

Pada babak empat besar atau semifinal, Ana Rovita dikalahkan pebulu tangkis Jepang, Sayako Sato, 20-22,17-21.  “Sebenarnya dia bisa menang karena sudah memimpin perolehan angka dari lawannya, tetapi tiba-tiba dikejar pebulu tangkis tunggal putri Jepang tersebut,” katanya kepada Antara.

Pada nomor tunggal putri Djarum Indonesia Super Series tersebut, pebulu tangkis India, Saina Nehwal, pada babak final mengalahkan Sayako Sato, 21-19, 13-21, 21-11.   Bagi Saina, keberhasilan ini merupakan yang kali kedua setelah berhasil meraih gelar tunggal putri pada turnamen yang sama 2009.

Ketika ditanya hasil yang dicapai pebulu tangkis Djarum pada Indonesia Open, dia mengatakan kalau untuk Anna Rovita memang memuaskan, sedangkan pebulu tangkis lainnya terbilang biasa saja atau tidak terlalu istimewa.

Pebulu tangkis tunggal putra, Andre Kurniawan Tedjono, hanya sampai pada babak kedua. Begitu pula dengan Rosaria Yusfin Pungkasari (Pipin) yang kalah dari seniornya, Maria Kristin, dua set langsung, 11-21,14-21. Kemudian Fransiska Ratnasari juga hanya sampai pada babak kedua, sedangkan Andreas Adityawarman justru kalah pada babak kualifikasi.

Pada Djarum Indonesia Open Super Series ini, Djarum Kudus mengirimkan 10 pebulu tangkis, baik tunggal putra-putri maupun ganda putra-putri. Khusus nomor ganda putra-putri, gagal melangkah ke babak utama.

Ia menambahkan, setelah mengikuti Singapura Internasional Series ini, pebulu tangkis Djarum Kudus, seperti Ana Rovita, Febby Angguni, Rosaria Yuswin Pungkasari, dan Fransiska Ratnasari, bakal diterjunkan pada turnamen bulu tangkis Indonesia Challenge di Surabaya akhir Juli mendatang.  “Kami harus merangkak dari nol lagi untuk menelorkan pebulu tangkis yang diharapkan mampu menembus kelompok elite dunia,” katanya.

Advertisements

Posted in nasional | Leave a Comment »

Kritik Lewat “Wall of Fame”

Posted by febrikusuma on June 30, 2010

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
Wall of Fame yang berisi kritik, saran, dan dukungan seputar Djarum Indonesia Open Super Series 2010 terpampang di Istora Senayan Jakarta, Sabut (26/6/2010).

JAKARTA, KOMPAS.com — Sederetan kalimat singkat yang menarik perhatian seperti “Anak Desa Pingin Tau Cara Jadi Juara,” atau “Go Taufik Ganyang Lee Chong Wei” dan puluhan kalimat lainnya tampak menghiasi dua buah papan besar yang dinamai “Wall of Fame”.

Ya, kalimat-kalimat tersebut merupakan bentuk dukungan dari para penonton yang hadir menyaksikan perhelatan akbar pertandingan bulu tangkis Djarum Indonesia Open Super Series (DIOSS) 2010.

Memasuki tahun ke-10 pelaksanaannya, DIOSS hadir dengan membawa berbagai ide segar guna semakin memasyarakatkan bulu tangkis kepada seluruh penonton Indonesia. Salah satunya adalah “Wall of Fame”. Ini merupakan inovasi baru yang menjadi bagian dari konsep besar acara secara keseluhuran, yakni “City of Badminton”.

Wall of Fame merupakan sebuah fasilitas yang disediakan pihak panitia DIOSS 2010 bagi para penonton yang hadir di Istora, Senayan. Mereka bisa menuliskan apa saja yang ingin mereka sampaikan, misalnya dukungan atau semangat bagi para atlet yang akan bertanding.

Wall of Fame ini terdiri dari dua papan kayu masing-masing berukuran 20 x 2,44 m yang dipajang di depan pintu masuk Istora. Di sekitar papan-papan ini juga disediakan masing-masing 10 spidol besar dengan aneka warna.

Ukuran raksasa Wall of Fame dan penempatannya di depan pintu masuk Istora ternyata cukup efektif menyedot perhatian pengunjung untuk ikut menulis, seperti halnya Awek. Pemuda asal kota Lampung ini sengaja meluangkan waktu datang ke Jakarta bersama sahabat-sahabatnya untuk menonton DIOSS 2010. Dengan semangat ia segera menghampiri Wall of Fame dan menulis kalimat, “Cah Lampung Dukung Reinkarnasi Indonesia.”

Menurut Awek, ia menulis kalimat tersebut sebagai penyemangat bagi bulu tangkis Indonesia yang ia nilai saat ini sedang “mati suri.” “Saya kan enggak mungkin ngomong langsung sama PBSI. Siapa pengurusnya saja saya enggak tahu. Yang penting saya menunjukkan kepedulian saya lewat nulis di papan ini. Semoga aja bisa dibaca orang PBSI yang lewat,” tutur Awek.

Lain lagi dengan Yulia dan Dewi. Mahasiswa Universitas Nasional Jakarta ini memilih menghabiskan hari Minggunya untuk menyaksikan sang idola, Taufik Hidayat, beraksi. Mereka masing-masing menuliskan dukungan bagi peraih medali emas Olimpiade Athena 2004 ini. Yuli menulis, “Ka opik… kita semua akan selalu mendukungmu, ka !!!!! semangat ya, ka!,” tulisnya.

Sementara itu, Dewi menuliskan kalimat yang lebih ekstrem lagi, “Taufik Hidayat, I luv U!.” “Kita ingin mendukung Taufik, walaupun enggak bisa disampaikan langsung sama Taufik tapi kita sudah senang kok menulis di Wall of Fame ini,” aku Dewi.

Wall of Fame ternyata tidak hanya menarik penonton lokal. Suporter dan keluarga para pemain asing pun antusias menuliskan bentuk dukungan mereka. Walau demikian, beberapa di antaranya menggunakan bahasa yang sulit untuk dimengerti penonton Indonesia.

Seperti halnya Sella, gadis cilik berusia 8 tahun, sibuk merengek minta diizinkan ikut menulis di dinding Wall of Fame. Sella datang dari Malaysia bersama ayah, ibu, dan seorang kakak laki-laki. Ketika diizinkan sang ibu, Sella lantas menghampiri Wall of Fame dan menuliskan kalimat singkat, “GO Lee Chong Wei!”

Menurut sang ibu, Aisyah, Sella memang sangat mengidolakan pemain nomor satu dunia ini. Berhubung akhir pekan, ia mengizinkan anaknya mengisi liburan dengan menyaksikan sang jagoan berlaga pada partai final. “Ya, kami sekeluarga suka badminton. Apalagi Sella, dia adalah salah satu penggemar berat Chong Wei. Tapi kami tidak suka main badminton, hanya menonton saja,” papar Aisyah.

Sambutan positif ternyata tidak hanya datang dari kalangan suporter. Atlet yang berlaga pun ikut senang dengan adanya Wall of Fame dalam penyelenggaraan DIOSS 2010. “Wall of Fame Bagus. Saya belum sempat nulis tapi sudah lihat dan sangat keren pastinya,” ujar pemain ganda campuran Indonesia, Fran Kurniawan.

Sementara itu, menurut ketua pelaksana “City of Badminton”, Ardan, awal tercetusnya ide menghadirkan Wall of Fame merupakan hasil rembukan seluruh tim panitia penyelenggara. “Seperti konsep awal ‘City of Badminton’ kami ingin mengajak seluruh masyarakat dari berbagai kalangan, termasuk artis sekalipun, untuk mendukung para atlet yang sedang bertanding,” kata Ardan.

“Wall of Fame ini merupakan sarana bagi para penonton untuk menyampaikan dukungannya. Awalnya kami sempat ragu karena takut para penonton menulis hal yang macam-macam dan justru tidak berhubungan dengan DIOSS 2010. Tapi, melihat tanggapannya antusias seperti ini, kami senang,” lanjutnya.

Mengomentari banyaknya kritik pedas yang disampaikan masyarakat lewat Wall of Fame terkait prestasi Indonesia yang menurun, Ardan mengaku tidak masalah. “Soal kritik, kami tidak masalah. Wall of Fame memang merupakan sarana bagi para penonton untuk menyampaikan aspirasinya. Kami justru senang mendapatkan banyak dukungan dan masukan dari masyarakat,” sebutnya.

Menurut Ardan, rencananya selepas kejuaraan DIOSS, Wall of Fame ini akan dipindahkan ke kantor PBSI di Pelatnas Cipayung, Jakarta. Meski masih sebatas rencana, semoga hal ini memudahkan PBSI agar lebih terbuka terhadap masukan dan komentar dari masyarakat tentang bulu tangkis Indonesia. Paling tidak, ini sebagai selingan untuk dibaca saat waktu luang….

Posted in nasional | Leave a Comment »

Usai Juara, Chong Wei Kebingungan

Posted by febrikusuma on June 30, 2010

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemain tunggal putra utama dunia, Lee Chong Wei, mengaku belum memutuskan apakah ia akan ikut serta dalam turnamen Grand Prix Gold Malaysia pada 6-11 Juli mendatang.

Chong Wei baru saja memenangi gelar juara pada turnamen Djarum Indonesia Open Super Series, Minggu (27/6/2010). Di final, ia mengalahkan unggulan ke-2 asal Indonesia, Taufik Hidayat.

Beberapa saat setelah memastikan gelar juara, Chong Wei mengaku diliputi kebimbangan tentang keikutsertaannya di turnamen yang akan berlangsung di Johor Bahru tersebut.

“Saya masih bingung. Saya ingin ikut pertandingan yang dilangsungkan di Malaysia ini dan saya ingin menghibur para penggemar saya,” kata Chong Wei. “Namun bila ikut, saya mengambil risiko karena ikut terlalu banyak turnamen,” kata Chong Wei yang dua pekan lalu disingkirkan Sony Dwi Kuncoro di Singapura Terbuka Super Series.

“Saya akan menghadapi tiga kejuaraan besar. Saya harus ikut kejuaraan dunia (Paris pada Agustus), Commonwealth Games (New Delhi, Oktober), dan Asian Games (Guangzhou, November). Saya harus membicarakan dulu dengan pelatih saya (Misbun Sidek),” ungkapnya.

Posted in World | Leave a Comment »

Back to back titles for Saina, Sari-Yao Lei

Posted by febrikusuma on June 21, 2010

India’s Saina Nehwal and Singapore’s women’s doubles pair of Shinta Mulia Sari and Yao Lei shared a common trait on Sunday at the Indoor Stadium in Singapore – both have won back to back titles.

After capturing the India Open women’s singles title and women’s doubles title last week, both Saina and Shinta-Yao Lei set the Indoor Stadium alight with another confident display to capture their second title in as many weeks.

While Saina showed no mercy against 16-year-old Tai Tzu Yin of Chinese Taipei, Shinta-Yao Lei gave the home crowd plenty to cheer when they beat South Korea’s Lee Hyo Jung-Kim Min Jung 21-17, 22-20 in the final of the US$200,000 Li Ning Singapore Open.

This was also Singapore’s first ever title in the Super Series event – comprising 12 tournaments with a minimum of USD200,000 total prize money for each tournament.

Saina, the women’s singles top seed, continued her impressive run in Singapore by outplaying Tzu Yin 21-18, 21-15. Tzu Yin, however, can be proud of her achievement as she showed great maturity for her age and showed great determination all the way.

In the men’s singles, Indonesia’s Sony Dwi Kuncoro, who scalped World No 1 Lee Chong Wei in the quarter-finals on Friday, beat Thailand’s Boonsak Ponsana to win his first ever Singapore Open title. Sony beat Ponsana 21-16, 21-16 in the final.

Another pair who continued their fine run in the tournament were Chinese Taipei’s Fang Chieh Min-Lee Sheng Mu.

Fang-Lee, who stunned Denmark’s No 3 seeds Mathias Boe-Carsten Mogensen and beat reigning Olympic champions Markis Kido-Hendra Setiawan in the semi-finals, served up another strong show to deny Howard Bach-Tony Gunawan the title. Fang-Lee won 21-14, 21-15.

Denmark’s Thomas Laybourn and Kamilla Rytter Juhl beat Indonesia’s Nova Widianto and Liliyana Natsir 21-12, 21-15 to clinch the mixed doubles title.

http://internationalbadminton.org

Posted in Super Series | 1 Comment »

Maria Febe, Senjata Baru Indonesia

Posted by febrikusuma on June 21, 2010

BANYAK yang bilang gaya saya mirip Susi Susanti. Tetapi, saya tidak tahu mirip di mananya. Yang jelas, Susi Susanti idola saya. Saya tentu ingin berprestasi seperti dia,” kata Maria Febe Kusumastuti, salah satu bintang Indonesia yang akan tampil di turnamen bulutangkis Djarum Indonesia Open Sper Series (DIOSS) 2010 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, 22-27 Juni mendatang.

Febe, biasa dia dipanggil, kini menjadi salah satu pemain yang diharapkan Indonesia untuk mengembalikan kejayaan bulutangkis, seperti era Susi Susanti, yang begitu disegani dunia, era 1990-an lalu.Saat ini, pemain kelahiran Boyolali, Jawa Tengah, ini menduduki peringkat teratas pemain Indonesia di tingkat dunia. Dia bertengger di urutan ke-19, di atas seniornya Adriyanti Firdasari yang berada lima tingkat di bawahnya, dan juga seniornya di klub Djarum Kudus, Fransisca Ratnasari (rangking 30) dan Maria Kristin (54).

Tingginya peringkat Febe tidak lepas dari prestasinya tahun lalu, yang merebut beberapa gelar juara. Prestasinya terbaiknya, adalah juara Grand Prix Australia Open. Dia juga menggapai final Grand Prix Selandia Baru Open, yang digelar setelah Australia Open. Tahun sebelumnya, dia juara di turnamen Bitburger, Jerman.

Bakatnya sebagai atlet bulutangkis tampaknya lahir dari ayahnya, Yoshua Bawi Aryawijaya. Bapak tercintanya, piawai bermain di semua cabang olahraga. Selain bela diri, sang ayah juga pandai memainkan sepakbola, bulutangkis, dan juga voli. Namun rupanya, soal prestasi, ayahnya harus kalah dari sang anak. Febe memang telah mantap berada di jalannya sekarang ini.

Febe saat ini tidak lagi bermain membela nama Djarum, klubnya, karena dia telah masuk pelatnas. Tugas berat tentu harus diembannya. Setelah membela nama Indonesia di Piala Uber di Malaysia, awal Mei ini, dia akan bertanding lagi di Djarum Indonesia Open. “Tahun lalu, saya kalah dari Pi Hongyang di babak pertama. Kini, setelah satu tahun berlalu, dan saya sudah memiliki pengalaman bertanding yang lebih, saya ingin menggapai prestasi lebih dari itu. Saya ingin mencapai semifinal,” kata penyuka sate kambing ini. “Saya harus mempersiapkan diri dengan baik dalam waktu satu bulan ke depan. Saya harus konsentrasi penuh sepanjang pertandingan.”

Prestasi yang diraihnya saat ini tidak lepas dari buah kerja keras sejak masih kecil. Febe harus melakukan perjalanan yang lumayan jauh untuk berlatih, karena di daerahnya, Boyolali tidak ada klub pembina. Dia pun pindah-pindah klub di Solo, kota yang tidak jauh dari daerahnya. Pemain yang bercita-cita menjadi pelatih ini pun mengarungi sejumlah klub di Solo, seperti di Panorama, Sinar, dan Tangkas Solo.

Keinginannya menjadi pemain bulutangkis hebat semakin di depan matanya karena pada Oktober 2005 PB Djarum meliriknya. Tentu saja dia gembira karena Djarum merupakan salah satu klub pembina yang telah banyak melahirkan banyak atlet tingkat dunia, seperti Ivan Lie, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, dan Haryanto Arbi.

Djarum pun memberikan kepercayaan penuh kepadanya dengan mengirim ke berbagai turnamen. Karena prestasinya yang gemilang hingga menembus peringkat 19 besar dunia, dia pun mendapatkan bonus sebesar Rp90 juta dari PB Djarum.

Selain bulutangkis, dia ternyata juga jago melukis. Namun, ini hanya sekadar hobi saja. Dia juga mempunyai hobi mendengarkan lagu-lagu, dan jalan-jalan. Di luar itu, aktifitas lainnya di kala senggang, adalah membaca novel.(fmh)

Posted in nasional | Leave a Comment »

Dionysius, Harapan Indonesia di DIOSS

Posted by febrikusuma on June 21, 2010

PENAMPILAN Dionysius Hayom Rumbaka  dalam debut pertamanya Piala Thomas di Kuala Lumpur, Malaysia, cukup menggembirakan. Dia mendapat kesempatan bermain meskipun hanya sekali. Kemenangan pun diraihnya atas pemain Australia Stuart Gomez.

Untung Hayom dapat kesempatan tampil meskipun hanya sekali, sehingga dia bisa merasakan bagaimana tampil di kejuaraan beregu itu. Penting bagi pemain muda seperti dia sehingga ke depan bila ditampilkan lagi sudah mempunyai modal bertanding.

Prestasinya cukup menggembirakan, dengan ditandai dengan beberapa gelar juara internasional tahun lalu. Umurnya belum genap 22 tahun, tetapi bila mendapatkan kesempatan banyak untuk bertanding, maka Hayom diprediksi akan menjadi salah satu bintang masa depan Indonesia.

Postur tubuhnya, yang mencapai tinggi badan 182 sentimeter, tentu menjadi salah satu modal untuk berprestasi. Pemain PB Djarum yang kini telah menghuni pelatnas ini dikenal sebagai salah satu pemain yang mempunyai smes keras dan sedikit ofensif. Pemain yang bercita-cita masuk Angkatan Udara jika tidak berkarier di bulutangkis ini juga mempunyai permainan net yang baik.

Memang, pemain berwajah ganteng ini baru membuktikan diri di turnamen menengah, seperti Banuinvest International Series, di Romania, Maret tahun lalu. Gelar juara lainnya, adalah Australia Open Grand Prix dan Indonesia Challenge. Tantangan Hayom ke depan tentu lebih berat, mengingat perjalanan kariernya masih panjang, dan persaingan sangat ketat.

Satu tantangan terdekat adalah Djarum Indonesia Open Super Series (DIOSS) yang digelar di Istora Gelora Bung Karno. Tahun lalu, pemain yang lahir 22 Oktober 1988 itu tidak mampu lolos kualifikasi. Kini, dengan bekal juara di beberapa turnamen internasional dan pengalamannya bertanding di turnamen besar lainnya, seperti All England dan Swiss Terbuka, dia berharap dapat mencapai berprestasi lebih baik lagi.

“Tentu keinginan saya juara. Tetapi itu tentu berat. Satu per satu dulu, dan lihat hasil undiannya juga. Kalau bertemu pemain unggulan tentu sulit. Namun, saat ini saya jauh lebih siap,” kata Hayom, yang mempunyai hobi sepakbola ini. Selain bermain bulutangkis, dia juga lihai bermain sepakbola dalam rilis yang diterima okezone, Jumat (18/6/2010).

Pemain yang mengidolakan Taufik Hidayat itu hanya mampu bertahan di babak pertama di All England dan babak kedua di Swiss Terbuka 2010. Saat itu, dia harus mengakui kehebatan dua pemain terbaik China Chen Jin dan Chen Long.

“Kalah dengan rubber game. Saya telah belajar banyak dari kekalahan itu,” ujar pemain yang menyukai pecel lele ini.

Jalan menjadi salah satu pemain terbaik di Indonesia cukup panjang. Dia mengenal bulutangkis saat kelas 3 SD Kanisius Wates, Kulon Progo, DI Yogyakarta. Melihat bakatnya, dia dimasukkan ke klub bulutangkis Pancing Sembada di GOR Pangukan, Sleman, DIY. Jarak sekitar 25 kilometer harus ditempuhnya dari rumahnya ke Sleman.

Namun, menginjak kelas 6 SD, dia pindah ke klub di Pikiran Rakyat di Tasikmalaya, Jawa Barat. Saat memasuki kelas 2 SMP, orang tuanya membawanya kembali ke Pancing hingga 2005. Setelah itu, dia kembali ke kampung halamannya hingga akhirnya pada 2005, dia pindah ke PB Djarum di Kudus. Di salah satu klub terbesar di Indonesia ini, pemain kelahiran 22 Oktober 1988 ini seperti menemukan apa yang dia harapkan. Pelatih hebat dan juga kesempatan bertanding di luar negeri sangat besar. Di bawah binaan mantan pemain asal China Fang Kai Xiang, dia digembleng dengan keras, sehingga lahirlah beberapa gelar juara.

Posted in Super Series | Leave a Comment »

Di Sini Kandang Kita!

Posted by febrikusuma on June 21, 2010

JAKARTA, KOMPAS.com — Tahun lalu, Indonesia sebagai tuan rumah hanya menjadi penonton turnamen bulu tangkis Djarum Indonesia Open Super Series karena cuma menyaksikan wakil dari negara lain naik podium untuk mengangkat trofi dan menyabet medali. Memiliki sejumlah pemain top yang diharapkan bisa naik podium juara, pasukan “Garuda” justru berguguran sebelum mencapai final. Hanya Taufik Hidayat yang bisa mencapai partai puncak, sebelum dikalahkan rival beratnya dari Malaysia, Lee Chong Wei.

Padahal, menjelang turnamen bergengsi berhadiah 250.000 dollar AS tersebut, hampir semua orang sudah punya ekspektasi yang cukup tinggi. Bahkan, Ketua Umum PB PBSI Djoko Santoso berani memasang target minimal merebut tiga gelar, yaitu tunggal putra, ganda putra, dan ganda campuran.

Keyakinan ini cukup beralasan karena di tiga sektor tersebut Indonesia memiliki pemain-pemain bermental juara dan sudah mengoleksi banyak gelar. Di tunggal putra ada Taufik Hidayat, yang sudah enam kali juara di rumah sendiri, begitu juga dengan Sony Dwi Kuncoro, yang menjadi juara Djarum Indonesia Open Super Series 2008. Di ganda putra ada Markis Kido/Hendra Setiawan, juara 2005, dan di ganda campuran terdapat pasangan Nova Widianto/Liliyana Natsir, juga juara 2005.

Namun, harapan itu tinggallah harapan karena semua gelar tersapu bersih oleh para “tamu”. Taufik, yang mengincar gelar ketujuh di negara sendiri, harus mengakui kehebatan Chong Wei, pemain nomor satu dunia. Di sektor tunggal putri muncul juara baru asal India, Saina Nehwal. Kemudian ganda putri dimenangi pasangan Malaysia, Eei Hui Chin/Pei Tty Wong; ganda putra menjadi milik pasangan Korea Selatan, Jung Jae-sung/Lee Yong-dae; dan ganda campuran direbut pemain China, Zheng Bo/Ma Jin.

Mendung pun menyelimuti langit Indonesia karena bulu tangkis yang menjadi olahraga kebanggaan di Tanah Air gagal mempersembahkan gelar. Hasil tahun 2009 itu menjadi ulangan mimpi buruk tahun 2007 ketika Indonesia harus malu di kandang sendiri lantaran gagal menyabet satu gelar pun. Tahun tersebut, Chong Wei juara tunggal putra, Wang Chen (Hongkong) di tunggal putri, Fu Haifeng/Cai Yun (China) juara ganda putra, Du Jing/Yu Yang (China) juara ganda putri, dan Zheng Bo/Gao Ling juara ganda campuran.

Padahal, dalam sejarah Indonesia Terbuka yang mulai bergulir pada tahun 1982 hingga berganti nama menjadi Indonesia Super Series, Indonesia selalu dominan. Bahkan, pernah terjadi sapu bersih gelar, seperti pada tahun 1983, 1993, 1996, 1997, dan 2001, ketika di sektor putri masih ada pemain-pemain top seperti Susi Susanti, Mia Audina, Lili Tampi, Finarsih, Rosiana Tendean, Ivana Lie, Deyana Lomban, dan Verawaty Fajrin.

Kini, kekuatan sektor putri Indonesia sudah hilang semenjak era Susi dan Mia berakhir. Tak heran jika dua nomor putri (tunggal dan ganda) nyaris tidak pernah masuk hitungan lagi di setiap turnamen, termasuk pada Djarum Indonesia Open Super Series 2010 ini.

“Saat ini kita memiliki mantan juara di sektor tunggal putra, serta masih ada yang diandalkan dari sektor ganda putra dan ganda campuran,” ungkap Djoko, yang juga Panglima TNI.

Benar sekali, tiga sektor ini tetap masih menjadi nomor andalan Indonesia. Akan tetapi, tidak tertutup kemungkinan terjadi kejutan di sektor tunggal dan ganda putri karena para pemain top dari China, Denmark, dan Korea Selatan tidak tampil dalam Djarum Indonesia Open Super Series kali ini. Bahkan, dari jauh-jauh hari China sudah memastikan tidak ambil bagian dalam turnamen yang akan berlangsung di Istora Senayan, Jakarta, 22-27 Juni, ini karena mereka juga sedang menggelar kompetisi internal.

Inilah yang membuat Ketua Subbidang Pelatnas PB PBSI Christian Hadinata cukup optimistis Indonesia bisa menyapu bersih lima gelar. Tentunya, perlu perjuangan yang keras dan menunjukkan semangat yang tak pernah padam. “Peluang meraih gelar di lima nomor tetap terbuka karena China tidak ambil bagian sehingga kekuatan menjadi rata,” ujar Christian saat jumpa pers Djarum Indonesia Open Super Series di Jakarta, 8 Juni lalu.

Ya, kans para pemain putri mengakhiri paceklik gelar sangat terbuka kali ini. Absennya semua pemain top China, plus juara All England, Tine Rasmussen (Denmark), sedikit menguak harapan bagi Maria Febe Kusumastuti, Adriyanti Firdasari, dan Maria Kristin Yulianti untuk menjadi juara. Di sektor ganda pun demikian, tanpa China, peta kekuatan menjadi sangat berimbang sehingga Meiliana Jauhari/Greysia Polii dan Shendy Puspa Irawati/Nitya Krishinda Maheswari bisa mengambil kesempatan ini.

Pelajaran dari Singapura

Jelang tampil di Djarum Indonesia Open Super Series, para pemain Indonesia lebih dulu ambil bagian di Singapura Terbuka Super Series. Hasilnya tidak terlalu mengecewakan karena Sony Dwi Kuncoro bisa membawa pulang gelar nomor tunggal putra. Dalam perjalanannya, dia lebih dulu menyingkirkan pemain nomor satu dunia, Chong Wei, dan di final mengalahkan unggulan keempat dari Thailand, Boondak Ponsana.

Nova/Liliyana juga berhasil menembus final. Sayang, ganda campuran nomor satu Indonesia ini tampil sangat buruk sehingga menyerah dua set langsung dari pasangan Denmark, Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl. Begitu juga dengan ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan, yang takluk di semifinal dari pasangan Taiwan, Fang Chieh Min/Lee Sheng Mu Lee, yang akhirnya menjadi juara.

Di ganda putri, Meiliana/Greysia sempat membuat kejutan karena melangkah ke semifinal seusai mengalahkan unggulan ketujuh dari Korsel, Ha Jung-eun/Jung Kyung-eun. Tetapi, perjalanan mereka harus terhenti karena dijegal pasangan Korsel yang merupakan unggulan kelima, Kim Min-jung/Lee Hyo-jung.

Namun, yang menarik dari hasil final di Singapura ini adalah munculnya ganda putri tuan rumah, Shinta Mulia Sari/Yao Lei, yang menjadi juara. Menghadapi Kim Min-jung/Lee Hyo-jung, semangat tinggi dan daya juang Shinta/Yao, yang tidak diunggulkan, membuat mereka mampu meraih kemenangan straight game, 21-17, 22-20. Ini merupakan sebuah hasil yang semestinya dan sepatutnya bisa menjadi inspirasi bagi pemain-pemain putri Indonesia untuk berprestasi di negara sendiri setelah Ellen Angelina terakhir kali menjadi juara tunggal putri tahun 2001 dan Vita Marissa/Liliyana Natsir juara ganda pada tahun 2008.

Jika di Singapura saja—yang juga tidak diikuti para pemain top China, Denmark, dan Korsel—kita bisa membawa pulang gelar, di Jakarta pun kita harus meraihnya. Karena, di sini kandang kita!

<!–/ halaman berikutnya–>

Posted in Super Series | Leave a Comment »

Akhirnya, Hanya Sony Yang Juara

Posted by febrikusuma on June 21, 2010

JAKARTA, Kompas.com – Ganda campuran Nova Widianto/Liliyana Natsir gagal menggandakan gelar juara Indonesia di turnamen Singapura Terbuka Super Series, Minggu (20/6/2010).

Nova/Butet yang diunggulkan di tempat pertama menyerah dua game dari unggulan kedua asal Denmark, Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl 12-21 15-21. Pasanhan Indonesia ini menyerah dalam 33 menit.

Nova/Butet maju ke final setelah di semifinal menyingkirkan pasangan Taiwan Chen Hung Ling/Cheng Wen Hsing dalam dua game 21-14 24-22. Sementara Laybourn/Juhl di semifinal menyingkirkan ganda Indonesia Hendra AG/Vita Marissa 21-15 21-13.

Dengan kegagalan Nova/Butet meraih gelar juara, berati Indonsia “hanya” meraih satu gelar juara di Singapura melalui tunggal putera Sony Dwi Kuncoro. Di final Sony mengalahkan pemian Thailand, Boonsak Ponsana 21-16 21-16.

Hasil lengkap Singapura Terbuka:
Saina Nehwal [1] [IND]-[TPE] Tai Tzu Ying 21-18 21-15
Fang Chieh Min/Lee Sheng Mu  [TPE]-Howard Bach [8]/[USA] Tony Gunawan 21-14 21-15
Sony Kuncoro [7] [INA]-[THA]  Boonsak Ponsana [4] 21-16 21-16
Shinta Mulia Sari/Yao Lei [SIN]-Min Jung KIM [5]/[KOR]Lee  Hyo Jung  21-17 22-20
Thomas Laybourn [2]/Kamilla Rytter Juhl [DEN]-Nova Widianto [1]/Liliyana Natsir 21-12 21-15

Posted in Super Series | Leave a Comment »

Nova/Liliyana Gagal Jadi Juara

Posted by febrikusuma on June 21, 2010

JAKARTA, Kompas.com – Ganda campuran terkuat Indonesia, Nova Widianto/Liliyana Natsir gagal meraih gelar di Singapura Terbuka Super Series. Di final, Minggu (20//6/10), mereka menyerah dua set langsung 12-21, 15-21 dari pasangan Denmark Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl.

Dengan demikian, Indonesia hanya bisa mendapatkan satu gelar di turnamen berhadiah 200.000 dollar AS. Sebelumnya, Sony Dwi Kuncoro (unggulan 7) yang naik podium juara setelah menang straight set 21-16, 21-16 atas unggulan keempat dari Thailand, Boonsak Ponsana.

Pada pertandingan yang digelar di Singapore Indoor Stadium, Singapura, Nova/Liliyana bermain sangat buruk. Malah pada set pertama, unggulan utama ini sempat tertinggal 5-20, sebelum mereka menambah tujuh poin dan lawan mengakhirinya dengan 21-12.

Di game kedua, Nova/Liliyana berusaha bermain lebih agresif. Tetapi pasangan Denmark, yang merupakan unggulan kedua, berhasil mempertahankan momentum, sehingga kembali meraih kemenangan dengan skor 21-15.

Hasil ini membuat Thomas/Kamilla terus menjaga rekor kemenangan dalam tiga pertemuan terakhir, di mana mereka selalu menang. Total, pasangan ini sudah bertemu 14 kali, dan kedudukan sekarang menjadi 9-5 untuk Nova/Liliyana.

Tuan rumah Singapura, mendapatkan satu gelar lewat ganda putri Shinta Mulia Sari/Yao Lei. Pasangan non-unggulan ini tampil luar biasa, sehingga bisa menang straight set 21-17, 22-20 atas unggulan lima dari Korea Selatan Kim Min Jung/Lee Hyo Jung.

Posted in Super Series | Leave a Comment »

Sony Juara di Singapura

Posted by febrikusuma on June 21, 2010

JAKARTA, KOMPAS.com — Tunggal putra Indonesia, Sony Dwi Kuncoro, menunjukkan bahwa ia masih eksis dengan menjuarai turnamen Singapura Terbuka Super Series, Minggu (20/6/2010).

Sony yang diunggulkan di tempat ketujuh tampil tanpa cela untuk mengalahkan unggulan ke-4 asal Thailand, Boonsak Ponsana, di Singapore Indoor Stadium.

Tampil dengan motivasi tinggi, Sony yang sempat cedera saat Piala Thomas pada bulan lalu menang dalam dua game saja, 21-16, 21-16. Pemain asal Surabaya ini menang dalam 45 menit.

Sony maju ke babak final setelah menang dua game, 21-19, 22-20, atas pemain India, Kashyap Parupalli, Sabtu (19/6/2010).

Dengan hasil ini, Indonesia sementara meraih satu gelar juara di Singapura Terbuka. Indonesia masih berpeluang menambah satu gelar setelah ganda campuran Nova Widianto/Liliyana Natsir juga maju ke final menghadapi unggulan ke-2 asal Denmark, Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl.

Pada nomor tunggal putri, pemain India, Saina Nehwal, merebut gelar juara dengan mengalahkan pemain Taiwan, Tai Tzu Ying, 21-18, 21-15. Sementara itu, ganda putra Taiwan, Lee Sheng Mu/Fang Chieh Min, menjadi juara dengan mengalahkan ganda AS, Tony Gunawan/Howard Bach, 21-14, 21-15.

Posted in Super Series | Leave a Comment »