Badminton Lovers

Badminton is My Life

Sejarah All England

Posted by febrikusuma on March 10, 2010

Bulutangkis.com – Kejuaraan ini sebenarnya telah berumur 111 tahun karena sudah dipertandingkan sejak April 1899, menyusul kesuksesan kejuaraan bulutangkis pertama di dunia pada 1898 di Guilford. Namun, kompetisi sempat beberapa kali tidak dilaksanakan karena berbagai hal, seperti saat Perang Dunia I (1915-1919) dan II (1940-1946), sehingga tahun ini penyelenggaraannya “masih” yang ke-100. Sejak digelar, All England sudah berpindah tempat ke 8 lokasi berbeda.

Sebelum All England, nama turnamen adalah “Kejuaraan Inggris Terbuka’” dan hanya memainkan sektor ganda, yaitu ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran. Namun, setelah itu, nomor tunggal putra dan putri ikut ditarungkan. Nama All England sendiri baru dipakai sejak 1902.

All England sempat diberi “gelar” sebagai kejuaraan dunia tidak resmi oleh insan bulutangkis di dunia ini. Itu karena penting dan bergengsinya turnamen ini. Sejak digelar, All England telah delapan kali berpindah lokasi berbeda, dan terakhir diadakan di Birmingham. Meskipun bukan turnamen yang menyediakan hadiah tertinggi, All England selalu dibanjiri pemain-pemain dunia. Pemain boleh tidak tampil di turnamen lainnya, meskipun hadiahnya lebih besar, tetapi tidak dengan kompetisi yang menyediakan total hadiah US$ 200.000 ini.

Turnamen ini mempunyai sejarah panjang dan tertua di dunia. Para pemain, belum merasa lengkap menjadi yang terbaik jika belum merebut gelar juara All England. Banyak pemain yang berlatih keras karena prioritas utama mereka ingin mencetak sejarah dengan juara di All England. Seorang pemain akan lebih lengkap gelar juaranya jika merasakan All England, juara dunia, dan Olimpiade. Juara dunia dan Olimpiade tentu juga diimpikan semua pemain di dunia ini. Dua ajang ini bahkan tidak menyodorkan hadiah sama sekali namun menjadi hal yang sangat penting dan bersejarah bagi seorang pemain bulutangkis.

Dalam sejarahnya, sebelum dikuasai para pemain Asia, gelar All England terlebih dahulu dikuasai oleh pemain lokal. Hingga sekarang, Sir George Alan Thomas tercatat sebagai atlet yang paling banyak merebut gelar juara, yaitu dengan 21 titel dari berbagai nomor. Pada era modern ketika pemain Asia mulai berjaya, nama-nama seperti Rudy Hartono, Liem Swie King (Indonesia), Susy Susanti (Indonesia), Ye Zhaoying, Gong Zhichao, Xie Xinfang (China), Park Joo Bong/ Kim Moon Soo, Li Yong Bo/ Tian Bingyi merupakan pemain paling sukses merebut banyak gelar.

Rudy mencatat rekor delapan kali juara tunggal putra, yaitu pada 1968-1974, dan 1976. Rekor ini begitu fantastis, dan belum ada yang mampu menyamainya. Rasanya sulit bagi pemain sekarang untuk menyaingi apa yang telah diraih pria asal Surabaya ini. Rudy, dalam sebuah kesempatan mengatakan, harus berlatih keras selama enam bulan sebelum tampil di All England.

Sayangnya, setelah duet putra Candra Wijaya/ Sigit Budiarto yang juara pada 2003, tak ada gelar juara lagi yang dirasakan para pemain Indonesia. Hariyanto Arbi, yang sekarang bergelut dengan bisnis perlengkapan bulutangkis Flypower, adalah pemain tunggal putra terakhir yang merebut gelar juara, yaitu pada 1994. Setelah Hariyanto, sebenarnya ada Taufik Hidayat yang diharapkan juara. Namun faktanya, Taufik hanya menjadi finalis dua kali, 1999 dan 2000. Taufik pun mempunyai keinginan kuat untuk menyandingkannya dengan gelar juara dunia dan Olimpiade.

Liem Swie King, salah satu pemain Indonesia yang juga menorehkan namanya daftar juara All England merasa bangga karena dapat merebut gelar juara di kompetisi tersebut. “Waktu itu, All England merupakan acuannya bulutangkis, karena belum ada Kejuaraan Dunia dan Olimpiade. Namun, saya kira, sampai sekarang pun turnamen ini menjadi tolok ukur juga walau sudah ada Kejuaraan Dunia dan Olimpiade,” kata Swie King.

Pemain binaan klub Djarum yang tiga kali merebut gelar juara di All England ini mengatakan menjadi juara All England akan lebih dikenang dari pada juara di turnamen lainnya. “Salah satu daya tarik yang kuat dari turnamen ini, adalah gengsinya karena tertua di dunia dan mempunyai sejarah yang sangat panjang,” ujar pemain asal Kudus ini.

Untuk menjadi juara di All England, Swie King harus berlatih keras selama tiga bulan. “Kita harus fokus latihan ke All England. Saya latihan serius selama tiga bulan untuk menjadi juara,” ujar Swie King yang mendapat hadiah 2.500 pound sterling setiap kali juara di All England itu. (Contributed by: Image Dynamics)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: