Badminton Lovers

Badminton is My Life

Taufik Hidayat yang Berubah

Posted by febrikusuma on November 3, 2009

Laporan wartawan Kompas.com A. Tjahjo Sasongko

JAKARTA, KOMPAS.com — Hanya beberapa saat setelah kalah dari Lin Dan di final Perancis Terbuka Super Series, Taufik Hidayat menorehkan sesuatu di dinding Facebook miliknya.

“Thanks for the support… Maaf belum dapat membalas dukungan tersebut dengan hasil yang memuaskan…,” tulis Taufik pada Minggu (1/11) pukul 22.18. Hanya dalam beberapa saat, posting ini langsung mendapat tanggapan. Ada yang sinis. Namun, sebagian besar memahami kekalahan Taufik 6-21, 15-21 dari Lin Dan.

Pemahaman ini boleh jadi karena sebagian penggemar bulu tangkis menyadari Taufik telah melampaui masa jayanya. Taufik yang kini sudah berbeda dengan ia pada masa lalu ketika pernah menjadi juara dunia, juara Indonesia Open, bahkan meraih medali emas Olimpiade Athena 2004.

Taufik kini telah berusia 28 tahun dan tidak lagi menjadi penghuni pelatnas bulu tangkis Cipayung yang sempat didiaminya selama belasan tahun. Sejak meninggalkan Cipayung pada Januari 2009, Taufik resmi menjadi pemain profesional murni yang harus mengurusi semua keperluan sendiri. Ia juga harus memperhitungkan sendiri untung ruginya—secara material—mengikuti sebuah turnamen internasional.

Namun, selalu ada blessing in disguise dalam setiap musibah. Perubahan status Taufik setelah tidak lagi ditanggung negara memang membawa perubahan mencolok pada pribadinya. Taufik yang pada masa jayanya dikenal sebagai “bad boy” dengan segala macam tingkah yang tak menyenangkan di dalam dan di luar negeri ternyata bisa berubah drastis menjadi seorang yang santun di lapangan dan menyenangkan di ruang konferensi pers.

Bila pada masa lalu, Taufik bisa menolak menjawab pertanyaan wartawan yang tidak disukainya atau pertanyaan yang tidak menyenangkan, maka kali ini ia selalu berusaha melihat segi positif atau bahkan fun dari pertanyaan yang diajukan, seperti saat ia lolos ke final Indonesia Open Super Series 2009 di Istora GBK Senayan, Juni lalu.

Saat itu, pemain Malaysia, Lee Chong Wei, yang mengalahkan Taufik di final, secara samar-samar menyarankan Taufik untuk mundur karena sudah melewati masa jayanya. “Tak elok cakap-lah,” kata Chong Wei. Reaksi Taufik? “Kalau lagi menang, memang ngomong apa aja juga enak. Dulu waktu saya menang terus kan dia juga tidak bisa ngomong apa-apa,” kata Taufik sambil tertawa-tawa.

Padahal, dulu—bahkan setahun sebelum mundur—Taufik selalu sinis bahkan kepada orang-orang yang memuji dia di ruang konferensi pers. Ketika ia menang dan wartawan lokal memuji-muji permainannya, Taufik dengan mudah berkomentar, “Sekarang Anda memuji saya karena menang. Nanti kalau kalah, tulis besar-besar tentang semua kelemahan saya….”

Perubahan status sebagai pemain profesional dengan kebutuhan public relation yang kuat membuat Taufik selalu berusaha tampil baik dengan prestasi bagus. Selama tahun 2009, Taufik merupakan pemain Indonesia dengan prestasi paling stabil. Ia selalu bertahan di babak-babak akhir saat para pemain lainnya, seperti Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso, ataupun Andre Kurniawan Tedjono, telah tersingkir.

Di lapangan pun Taufik mampu menarik simpati dengan teknik backhand smash yang masih belum ada lawan, jumping smash yang belum mengendur, maupun dengan semangat pantang menyerah. Saat menghadapi pemain Denmark, Peter Gade, pada babak semifinal turnamen Perancis Terbuka Super Series pekan lalu, Taufik mendapat dukungan dari para penonton. Sebagian dari mereka berteriak memanggil namanya dengan nada ritmis, “Taufiiik Hidayat!!” Dari logat suara, sudah pasti orang-orang yang berteriak itu bukan berasal dari Jawa, Batak, ataupun etnis lain di Indonesia, melainkan suara lidah orang Eropa.

Setiap kali menyaksikan Taufik bermain secara langsung atau melalui siaran langsung televisi maupun internet, kita seperti melihat usaha Taufik untuk mengembalikan bulu tangkis sebagai tontonan yang menarik. Bulu tangkis memang seperti kehilangan greget sebagai tontonan. Televisi nasional sudah jarang menyiarkan secara langsung. Bahkan, produsen seperti Djarum yang memiliki klub bulu tangkis besar pun lebih suka menjadi sponsor olahraga yang lebih massal, seperti sepak bola.

Menyaksikan Taufik—meski kalah—kita seperti melihat sisa kejayaan kita masa lalu yang secara perlahan mulai menghilang. Sesuatu yang tidak bisa dihindari mengingat betapa kecilnya penghargaan kita buat para pemain saat masih berjaya, apalagi setelah tak lagi dipakai. Padahal, di beberapa negara—jauh dari tanah kelahirannya—para pahlawan bulu tangkis kita mendapat penghargaan besar. Seperti saat Taufik menjuarai di sebuah turnamen di Hyderabad, India, Maret lalu. Saat mengumumkan pemenang, si pembawa acara—cewek India—memanggil, “The Golden Boy… Taufik Hidayat….”

Taufik, jangan berpikir untuk mundur dulu-lah….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: