Badminton Lovers

Badminton is My Life

Harapan Taufik kepada Andi Mallarangeng

Posted by febrikusuma on October 22, 2009

JAKARTA, Kompas.com — Menteri Negara Pemuda dan Olahraga yang baru, Andi Alfian Mallarangeng, diharapkan lebih memerhatikan nasib atlet, baik ketika masih aktif maupun setelah pensiun.

Mantan pebulu tangkis nasional, Taufik Hidayat, di Jakarta, Rabu (21/10), menyampaikan keyakinannya bahwa prestasi olahraga Indonesia akan semakin terpuruk jika pemerintah tidak secara total memikirkan atlet setelah pensiun. “Pada masa sekarang akan semakin sedikit orang yang mau menjadi atlet karena masa depannya tidak pasti, padahal mereka harus mengorbankan masa mudanya untuk berlatih keras menjadi atlet,” kata peraih medali emas Olimpiade Athena itu.

Ia mencontohkan dirinya sendiri yang diberi pilihan oleh orangtuanya saat duduk di kelas 1 SMA apakah akan memilih menjadi atlet atau melanjutkan sekolah. Taufik mengatakan, ia harus meyakinkan orangtuanya bahwa ia bisa hidup dari olahraga sebelum mendapat restu untuk menjadi atlet.

“Seandainya pemerintah bisa meminta satu perusahaan nasional untuk memberikan pensiun bagi satu saja atlet berprestasi, saya rasa akan banyak anak muda yang ingin menjadi atlet,” katanya seraya mengambil contoh rekannya, pebulu tangkis Malaysia Lee Chong Wei, yang sudah dijamin masa pensiunnya meskipun hanya meraih medali perak Olimpiade Beijing.

Taufik mengakui, apa yang dilakukan Menegpora sebelumnya, Adhyaksa Dault, dengan memberi rumah dan peluang menjadi PNS bagi atlet berprestasi adalah satu terobosan yang bagus. Namun, ia menegaskan bahwa tidak semua atlet bisa menjadi karyawan.

Berbeda dengan Taufik, pebulu tangkis yang belum setahun masuk Pelatnas Cipayung, Fran Kurniawan, berharap pemerintah lebih banyak memberi kesempatan atlet muda bertanding. “Karena kami sudah mengorbankan segalanya, yang kami harapkan sebagai atlet adalah dukungan dana dari pemerintah agar atlet-atlet muda mendapat kesempatan bertanding lebih banyak,” kata Fran yang sedang berlaga dalam turnamen Super Series Denmark Terbuka.

Ia mengaku sedih karena sering menghadapi kenyataan beberapa atlet harus batal bertanding ke luar negeri akibat keterbatasan dana. Pembatalan berangkat juga hampir dialami atlet yang berlaga di Denmark Terbuka meskipun akhirnya jumlah pelatih yang dikurangi sehingga semua atlet yang dipersiapkan tetap berangkat.

Pada Denmark Terbuka yang berlangsung di Odense, 20-25 Oktober, itu tim Indonesia hanya didampingi dua pelatih, pelatih tunggal putra, Davis Efraim, dan ganda campuran, Yanti Kusmiati. Hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya karena biasanya dalam turnamen super series, setiap nomor yang diikuti selalu didampingi pelatih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: