Badminton Lovers

Badminton is My Life

Susy Susanti Mengenang Tasikmalaya

Posted by febrikusuma on September 28, 2009

JAKARTA, Kompas.com – Ketika gempa bumi mengguncang Jakarta awal September lalu, Susy Susanti panik memikirkan anaknya yang tertinggal di lantai atas gedung sekolah.

Waktu itu Susy tengah menunggu tiga anaknya yang bersekolah di Gandhi Internatinal School di Kemayoran, Jakarta Pusat. Tiga anaknya, Laurentia Venetia (10), Albertus Edward (9) dan Sebastianus Frederik (6) seharusnya keluar pukul 15.00. Namun sebelum keluar itulah tiba-tiba bumi bergoyang. “Saya kaget waktu semua orang berteriak quick….quick… dan meminta kami keluar gedung<' kata usys.

Susy yang panik karena belum menemukan putera bungsunya, Frederik berusaha mencari ke dalam. "Setelah beberapa lama menunggu dan gempa sudah reda, saya baru mencari. Saya lega karena menemukan Frederik digandeng oleh staf sekolah," lanjut Susy. Pada saat itulah, Susy baru tahu kalau pusat gempa berada di kota kelahirannya, Tasikmalaya.

Mantan atlet bulu tangkis Susy Susanti memang telah lama meninggalkan Tasikmalaya yang merupakan kota kelahirannya. Ia pindah ke Jakarta untuk melanjutkan latihannya sebagia pemain bulu tangkis saat baru berusia 14 tahun pada 1985 lalu. Saat itu Susy masih duduk di bangku SMP 2 Tasikmalaya dan diminta klub Jaya Raya. Setahun kemudian ia ditarik masuk pemusatan latihan nasional (pelatnas).

"Ketika pindah ke Jakarta, saya sudah bilang sama papi dan mami akan serius dengan karir saya di bulu tangkis," kata Susy. Kedua orang tuanya, Risad Haditono dan Purwo Banowati pun meminta puteri mereka untuk berkonsentrasi pada karir dan masa depannya dan melupakan keluarga untuk sementara. "Kedua orang tua saya, terutama mami, bisa mengerti kalau saya jarang pulang ke Tasik," kata Susy.

Padahal hubungan Susy sangat dekat dengan ibunya. Laiknya seorang puteri, ia selalu berada di samping ibunya yang memiliki usaha membuat kue. "Susy itu dari kecil bawaannya pintar masak. Diajar sebentar saja, ia langsung bisa mengerti," kata ibunya di saat Susy tengah berada di puncak karirnya di awal 1990-an.

Namun Purwo mengerti bahwa talenta yang diterima anaknya jauh lebih besar dari yang dibayangkannya. Ia hanya berusaha membuat anaknya nyaman dengan mengingatkannya pada hal-hal kesukaannya di masa kecil. "Kalau pulang, saya selalu mencari hal-hal yang menyenangkan saya di masa kecil seperti makan mie bakso atau membantu mami membuat klue," kata Susy.

Menurut Susy, ia memang tumbuh sebagai anak tipe rumahan yang tidak suka keluyuran. "Papi mami itu agak kolot. Aktivitas saya di luar rumah memang dibatasi. Jadi kegiatan saya praktis hanya sekolah dan berlatih. Itu pun karena tempat latihannya dekat rumah." kata Susy. "Latihan di samping rumah. Kalau pun tidak di sana saya latihan di GOR jalan Pengadilan, Tasikmalaya."

Pada masa kejayaan Susy -terutama setelah meraih medali emas olimpiade Barcelona 1992- sosoknya selalu dikaitkan dengan kota kelahirannya. Bahkan sebagai penghargaan, pada 1992 didirikan sebuah gelanggang olahraga khusus bulu tangkis dengan namanya. "Setiapkali pulang ke Tasik saya seperti menjadi tamu pemerintah daerah saja," kata Susy.

Namun semua itu sudah menjadi masa lalu yang menyenangkan buat Susy dan kedua orang tuanya. Dengan kesibukan bisnisnya di bidang alat olahraga bersama suaminya, Alan Budikusuma, dua tahun lalu, Susy meminta ayah ibunya meninggalkan Tasikmalaya dan pindah ke Jakarta. . "Keputusan itu harus kami ambil, setelah papi sempat sakit parah dan mengalami kejang, waktu itu tidak ada yang bersama mereka. Kami sangat khawatir karena saat itu sedang merebak kasus flu Hong Kong," kata Susy.

Akhirnya, orang tua Susy mau memahami permintaan anak mereka. Rumah penuh kenangan di jalan Rasamala, Tasikmalaya dijual dan mereka pun meninggalkan Tasikmalaya dan pindah ke dekat rumah Susy di daerah Kelapa Gading. "Negosiasinya alot juga, soalanya mami mau pindah kalau dia tetap punya kesibukan membuat kue," kata Susy. Tentu saja ini bukan permintaan sulit buat Susy.

Susy memang tak lagi pulang ke Tasikmalaya. Ia juga tidak tahu bagaimana kondisi GOR Susy Susanti yang kabarnya kini sudah memprihatinkan dan tidak terawat. "Semoga saja gempa kemarin tidak menimbulkan kerusakan berarti di sana…" kata Susy.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: